Classicnewcar.us


Pemerintah Satu Suara Terapkan Subsidi Tetap BBM

Pemerintah Satu Suara Terapkan Subsidi Tetap BBM

The server encountered an internal error or misconfiguration and was unable to complete your request.Please contact the server administrator, webmaster@suaramerdeka.com and inform them of the time the error occurred, and anything you might have done that may have caused the error.More information about this error may be available in the server error log.



FLUKTUASI nilai tukar rupiah pascakemenangan Donald Trump menjadi presiden AS, Rabu (9/11), lebih disebabkan kepanikan global.Pasalnya, para is khawatir kebijakan Trump berdampak negatif terhadap negara berkembang seperti Indonesia.Trump ditengarai bakal menerapkan kebijakan ekonomi yang protektif dan konservatif sehingga dikhawatirkan menghambat perdagangan negara-negara mitra dagang AS.Hal ini dikemukakan oleh Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara di kantornya, kemarin."Kalau AS menjadi proteksionis, ekspor negara emerging market akan terhambat. isis itu ada dasarnya, tetapi bagi negara yang sangat berkaitan dengan AS. Kurs rupiah terimbas kekhawatiran pelaku pasar mengenai kebijakan pembatasan perdagangan valas," kata Mirza.Kemarin, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level 13.865 per dolar AS pada pukul 09.15 WIB.Namun, dalam penutupan perdagangan rupiah menjadi 13.325 atau melemah 194 poin dibandingkan sehari sebelumnya, yakni 13.131.Kurs tengah BI kemarin mencatat nilai rupiah menjadi 13.350 dibandingkan Kamis (10/11) sebesar 13.118 (lihat grafik)."BI melakukan intervensi untuk menahan pelemahan rupiah yang tidak mencerminkan nilai fundamental. Kami tidak membatasi transaksi valas di pasar uang dan pasar antarbank, biarkan pasar berjalan," ujar Mirza.Menurut Mirza, di luar negeri rupiah diperdagangan dalam transaksi pasar non deliverable forward yang tidak mencerminkan fundamental rupiah."Pokoknya pedagang melihat mata uang negara lain melemah. Mereka mengikuti apa yang terjadi di Meksiko dan Brasil."Mirza menilai fundamental ekonomi Indonesia hingga awal November 2016 dalam keadaan baik dan stabil.Indikatornya ialah pertumbuhan ekonomi triwulan ketiga sebesar 5,02% atau terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Filipina.Suku bunga ASKepala Ekonom BCA David Sumual melihat ada faktor lain yang ikut memicu pelemahan rupiah, yakni ketidakpastian naik atau tidaknya suku bunga The Fed."Kini pelaku pasar berspekulasi dengan menjual obligasi. Apalagi, kepemilikan asing terhadap obligasi pemerintah sangat besar. Kendati demikian, pelaku pasar di Indonesia jangan panik dan banyak spekulasi karena fundamental ekonomi di dalam negeri cukup kuat. Pemerintah juga mesti mendorong iklim usaha agar semakin kondusif," ungkap David.Di sisi lain, Menteri Keuangan Sri Mulyani berupaya mengidentifikasi faktor yang memengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah."Rupiah sangat dipengaruhi oleh sentimen regional dan global. Pernyataan di AS pasti memberikan pengaruh. Rupiah itu kan nilai yang dilihat dari sisi permintaan dan penawaran. Dari sisi permintaan seperti untuk membiayai impor dan membayar utang. Saya melihat tidak ada alasan untuk khawatir karena permintaan itu bisa dipenuhi."Sri Mulyani pun berharap investor tidak khawatir terhadap pengelolaan APBN sehingga harus melepaskan obligasi mereka."Kami akan terus mengelola dan menjelaskan perekonomian di Indonesia baik-baik saja. Tidak perlu khawatir."(Arv/Pra/Ant/X-3)Media Indonesia merupakan koran nasional yang terbit sejak 19 Januari 1970. Phone: 021 582 1303 Fax: 021 582 0476 Email: cs@mediaindonesia.com (Customer Service), marketing.onlinedigital@mediaindonesia.com Media Indonesia 2017. All rights reserved.





#Contact US #Terms of Use #Privacy Policy #Earnings Disclaimer